INTERNATIONAL WORKSHOP ON DEVELOPING INCLUSIVE GROWTH INDEX FOR INDONESIA

BOGOR, 30-31 mARET 2017.

Direktorat Perencanaan Makro dan Analisis Statistik bekerjasama dengan Knowlegde Sector Initiatif (KSI) Indonesia, mengadakan workshop internasional mengenai perumusan indeks pertumbuhan inklusif di Indonesia pada hari Kamis, 30 Maret 2017 bertempat di Bogor, Jawa Barat. International Workshop ini dibuka oleh Deputi Bidang Ekonomi sekaligus memberikan arahan dan harapan terhadap pelaksanaan workshop tersebut. International workshop ini merupakan langkah awal dari tahapan prakarsa strategis tentang pertumbuhan ekonomi inklusif yang dilakukan oleh Direktorat Perencanaan Makro dan Analisis Statistik. Hadir sebagai narasumber untuk kegiatan workshop ini adalah: Massimo Geloso Grosso (Kepala Kantor OECD Perwakilan Indonesia), Prof. Terry McKinley (University of London), Kensuke Tanaka (OECD Headquarter-Paris), Teguh Dartanto (Universitas Indonesia), Arief Anshory Yusuf (Universitas Padjajaran), Asep Suryadi (Semeru Institute), Iswadi Suhari (BPS), Dyah Hapsari A. Sholihah (Universitas Trisakti), Vivi Yulaswati (Direktur Pengentasan Kemiskinan dan Kesejahteraan Sosial-Bappenas), dan Amalia Adininggar Widyasanti (Direktur Perencanaan Makro dan Analisis Statistik-Bappenas).

Menurut Deputi Bidang Ekonomi – Bappenas, Leonard V. Tampubolon dalam sambutannya menegaskan pentingnya tujuan kegiatan dari kajian ini, yaitu untuk mengembangkan konsep baku pertumbuhan ekonomi inklusif dan menyusun indeks pertumbuhan ekonomi Inklusif untuk Indonesia. Seperti diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi suatu negara dikatakan berkualitas apabila pertumbuhan tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan bagi sebagian besar (mayoritas) masyarakat, terdistribusi merata hingga ke masyarakat miskin, dan terjaminnya aksesibilitas bagi masyarakat terhadap peluang dalam kegiatan ekonomi baru, atau dengan kata lain pertumbuhan yang bersifat inklusif.

Ketiadaan metode pengukuran yang baku tentang tingkat inklusifitas sebuah pertumbuhan ekonomi dan keterbatasan pengetahuan SDM terkait metode, konsep dan instrumen dalam pengukuran pertumbuhan ekonomi inklusif mendorong Bappenas melakukan Kajian Prakarsa Strategis Pengembangan Indeks Pertumbuhan Ekonomi Inklusif, dengan harapan tingkat inklusifitas pembangunan di Indonesia setiap tahun akan terukur dan dapat dipetakan secara kuantitatif, sebagai dasar penyusunan kebijakan, program dan kegiatan yang lebih terarah dan berkualitas.

Pak Leo

PesertaMosimo dan Terry

WSH2

 

 

 

Share Button

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


Skip to toolbar